Kamis, 11 April 2013

Kondisi Pendidikan di Indonesia


PEMBAHASAN

A.                KONDISI PENDIDIKAN SEBELUM  KEMERDEKAAN

              Dalam makalah ini akan mengkaji kondisi pendidikan sebelum kemerdekaan, kondisi pendidikan periode 19945-1969 serta kondisi pendidikan pada PJP I (1969-1983)

a)      Zaman Purba
Latar Belakang Sosial Budaya :
              Kebudayaan yang berkembang pada penduduk asli disebut kebudyaan paleolitis, kebudayaan nenek moyang bangsa indonesia pada kurang lebih 1500 SM disebut kebudayaan neolitis, yang sisa-sisanya dapat kita jumpai di pedalaman Kalimatan dan Sulawesi, dengan ciri-ciri sebagai berikut:


a)      Tergolong kebudayaan Maritim
b)      Menganut kepercayaan animisme dan dinamisme
c)      Tata masyarakat bersifat egaliter
d)     Tidak ada stratifikasi sosial yang tegas
e)      Hidup bergotong royong
f)       Dipimpin oleh ketua adat



Kondisi Pendidikan :
              Pada zaman ini pendidikan bertujuan agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri dan hidup bermasyarakat. Kurikulum pendidikannya meliputi pengetahuan, sikap,keterampilan mengenai keagaman, hidup bermasyarakat dan keterampilan mencari nafkah.
b)       Zaman Kerajaan Hindu-Buddha
Latar Belakang Sosial Budaya :
              Dengan masuknya pengaruh kebudayaan india. Mulai muncul staratifikasi sosial berdasarkan kastaPada abad ke-5 Masehi telah dimulainya zaman sejarah, hal ini ditandai dengan ditemukannya tulisan tertua

Kondisi Pendidikan :
              Tujuan pendidikan umunya agar peserta didik menjadi penganut agama yang taat, mampu hidup bermasyarakat sesuai tatanan masyarakat yang berlaku saat itu, mampu membela diri dan membela negara.
c)      Zaman Kerajaan Islam
Latar Belakang Sosial Budaya :
              Pada pertengahan abad ke-14, kota Bandar Malaka ramai dikunjungi para saudagar dari Asia Barat dan Jawa (Majapahit). Melalui para saudagar dari jawa yang memeluk agama islam maka tersebarlah agam islam ke pulau jawa sampai berdirilah kerajaan-kerajaan islam. Umumnya masyarakat tidak menganut stratifikasi sosial berdasarkan kasta.
Kondisi Pendidikan :
              Pada umumnya pendidikan bertujuan untuk menghasilkan manusia yang taqwa kepada Allah SWT. Selain dalam keluarga, pendidikan berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan yaitu mesjid, dan pesantren. Kurikulum pendidikannya tidak tertulis. Pendidikan berisi tentang agama islam.
d)     Zaman Pengaruh Portugis dan Spayol
Latar Belakang Sosial Budaya:
              Pada awal abad ke-16 bangsa portugis datang ke Indonesia, kemudian disusul oleh bangsa spayol, selain untuk berdagang, kedatangan mereka juga bertugas menyebarkan agama katolik.
Kondisi Pendidikan :
              Tahun  1536 Portugis dan Spanyol mendirikan sekolah di Ternate dan Solor. Pendidikan diberikan bagi anak-anak masyarakat terkemuka.
e)      Zaman Kolonial Belanda
Latar Belakang Sosial Budaya:
              Bangsa Belanda datang ke negeri kita pada tahun 1596 dan mendirikan VOC dengan tujuan menguasai daerah untuk berdagang, juga untuk menyebarkan agama protestan. Karakteristik kondisi sosial budaya pada zaman ini, antara lain :
a)      Berlangsungnya penjajahan(Kolonialisme)
b)      Monopoli perdagangan
c)      Stratifikasi Sosial berdasarkan ras atau suku bangsa
Kondisi Pendidikan :
              Kondisi pendidikan zaman ini secara umum dapat dibedakan berdasarkan garis pelaksanaan penddidikannya, yaitu pendidikan yang dilaksankan oleh pemerintah kolonial Belanda dan pendidikan yang dilaksnakan oleh kaum pergerakan
1.Pendidikan Pemerintahan Kolonial belanda: Zaman VOC
              Pendidikan dilakukan oleh VOC khusus untuk anak-anak pegawai saja.
2.Pendidikan Pemerintahan Kolonial belanda
              Pendidikan pada zaman ini  mengecewakan bangsa Indonesia.Dalam periode pemerintahan kolonial Belanda, betapa kecilnya usaha-usaha pendidikan bagi kalangan Bumi Putera. Tilaar (1995) mengemukakan 5 ciri mengenai pendidikan zaman kolonial Belanda, yaitu
1.         Adanya Dualisme pendidikan
2.         Sistem Konkordansi
3.        Sentralisasi pengelolaan pendidikan oleh pemerintahan kolonial Belanda
4.        Menghambat gerakan nasional
5.        Munculnya perguruan swasta yang militan demi perjuangan nasional
3.Pendidikan Kaum Pergerakan sebagai Sarana Perjuangan Kemerdekaan
              Sejak Kebangkitan Nasional (1908) sifat perjuangan rakyat Indonesia dilakukan melalui berbagai partai dan organisasi. Usaha-usaha dalam bidang pendidikan tampak jelas. Berikut adalah contoh perjuangan tersebut:
§  Tahun 1908 Budi Utomo dalam konggresnya yang pertama (3-4 Oktober 1908) dengan tujuan memajukan pengajaran, pertanian, perdagangan, dagang, teknik industri, dan kebudayaan.
§  Tahun 1912 K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah
§  Tahun 1915 didirikan Trikoro Dharmo,dan terwujudnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928.
§  Tahun 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa
§  Tahun 1926 Mohmmad Sjafei mendirikan INSdi Kayutanam.
§  Juli tahun 1927 dalam pidato pembelaanya Bung Hatta di pengadilan Den Haaq
§  Kongres Pasundan pada tahun 1930 juga menempatkan pendidikan dan pengajaran sebagai salah satu sarana utama perjuangannya.
§  November tahun 1937 dalam kongres ke-26 Persatuan Guru Indonesia (PGI) di Bandung dirumuskan supaya diadakan wajib belajar
        Terdapat 3 ciri pendidikan nasional pada masa ini (Tilaar,1995), antara lain:
1.      Bersifat Nasionalistik dan sangat anti kolonialis
2.      Berdiri sendiri
3.      Pengakuan kepada eksistensi perguruan swasta
f.     Zaman jepang
Keadaan sosial budaya pada kekuasaan jepang sangat menyengsarakan rakyat. Mereka datang untuk merampas kekayaan indonesia. Menerapkan semboyan “hakko ichiu” atau “kemakmuran bersama” Asia timur raya. Penerapan kekuasaan jepang dalam bidang pendidikan yaitu:
1.      Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang asia timur
2.      Dihapuskannya sistem dualisme dalam pendidikan
3.      Sistem pendidikan menjadi lebih merakyat
Kondidi pendidikan 1945 – 1969
            Setelah proklamasi 18 agustus 1945 PPKI menetapkan UUD 1945 pendidikan mulai disempurnakan. Berjalannya revolusi fisik, pemerintah mulai mempersiapkan sistem pendidikan nasional UUD 1945. Pada kongres pendidikan, PP dan K membentuk panitia RUU mengenai pengajaran dan pendidikan karena terganggu pecahnya perang kolonial kedua pembahasan RUU terhenti dan dilanjutkan 29 oktober 1949. Pada 5 april 1950 RUU tersebut digunakan sebagai UU No. 12 tahun 1950 tentang dasar dasar pendidikan dan pengajaran disekolah. Pada 27 jauari 1954 diterima oleh DPR lalu disahkan 12 maret 1954 dan diundangkan pada 18 maret 1954 sebagai UU No. Tahun 1954.
Peletakan dasar pendidikan nasional
Pada saat konverensi meja bundar terbentuklah RIS pada tahun 1949 yang memberlakukan UUD RIS. Pada saat RIS kembali ke NKRI, UUD RIS diganti dengan UUD sementara RI atau UU No.7 tahun 1950. Setelah pemilu 1959  konstitute gagal menyusun UUD, maka pada 5 juli 1959 keluarlah dekrit presiden menyatakan bangsa dannegara kesatuan republik indonesia kembali pada UUD 1945. Meski terjadi pergantian bentuk dan kostitusi negara, pendidikan nasional indonesia tetap dilaksanakan sesuai jiwa UUD 1945 dan UU RI No. 4 tahun 1950 de facto digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan dan kebudayaan seluruh NKRI. Hal ini tertuang dalampiagam persetujuanpemerintah RIS dan pemerintah RI tanggal 19 mei 1950. Pada 27 juni 1954 DPR menerima RUU tersebut, disahkan 12 maret 1954, berlaku pada 18 maret 1954 sebagai UU RI No. 12 tahun 1954.
Demokrasi pendidikan
Sesuai amanat UUD1945 dan UURI No.4 tahun 1950, meski menghadapi kesulitan pemerintah mengusahakan terselenggaranya pendidikan yang bersifat demokratis, yaitu kewajiban belajar sekolah dasar bagi anak berumur 8 tahun. Wajib belajar ini direncanakan selama 10 tahun (1950-1961). Namun pelaksanaan ini mengalami maslah karena kekurangan guru dan jumlah sekolah maka berdasarkan keputusan mentri pendidikan No. 5033/F tanggal 5 juli 1950 didirikanlah kursus pengajar untuk kursus pengantar kepada kewajiban belajar (KPKPKB). Mulai saat ini demokrasi pendidikan tampak sudah dikerjakan. Selanjutnya KPKPKB ditingkatkan menjadi SGB dan SGA, selain itu didirikan kursus-kursus persamaan SGB dan SGA.
Lahirnya LPTK pada tingkat universiter
              Pada tahun 1949-1961 pemerintah indonesia telah mendirikan berbagai perguruan tinggi antara lain: UGM (20 November1949), UI (1950), universitas Airlangga (1954), Universitas Hasanudin, PTPG yang kemudian menjadi IKIP (1954-1961), Universitas Andalas (1956) dan universitas sumatra utara Medan. Pada tanggal 4 Desember 1961 lahir UU No.22 tahun 1961 tantang perguruan tinggi. Pokok-pokok dalam UU ini yang masih diterapkan adalah tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan/pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat.
Kondisi pendidikan pada PJP I 1969-1993
Pembangunan jangka pertama, meliputi I-V pelita selama 25 tahun. Selama itu indonesia banyak kemajuan. Hal ini ditunjukkan pada kesempatan memperoleh pendidikan pada semua jalur, jenis, dan meningkatnya berbagai sarana pendidikan. Ketika pelita V berakhir, pendidikan nasional dihadapkan pada tantanga, secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif yaitu tantangan yang di hadapi menyangkut pemerataan kesempatan untuk memperoleh khususnya pendidikan dasar. Sementara tantangan yang dihadapi secara kualitatif yaitu peningkatan mutu pendidikan, peningkatan relevansi pendidikandengan pembangunan, efektivitas, dan efisiensi pendidikan.
UU tentang sistem pendidikan nasional
Dalam membangun sistem pendidikan nasional, keberadaan UU No.2 tahun 1989 sistem pendidikan nasional (UUSPN) merupakan acuan penting. UUSPN yang disahkan pada 27 maret 1989 mengatur berbagai aspek dan bidang pendidikan.sebagai penjabarannya, disahkan pula 8 peraturan pemerintahan yang merupakan penjabaran dari UU tersebut. PP yang dimaksud adalah PP No.27/1990 tentang pendidikan prasekolah, PP No.28/1990 tentang pendidikan dasar, PP No.29/1990 tentang pendidikan menengah, PP No.30/1990 tentang pendidikan tinggi (yang kemudian diganti dengan PP No.60/1999), PP No.72/1991 tentang pendidikan luar biasa, PP No.73/1991 tentang pendidikan luar sekolah, PP No.38/1992 tentang tenaga kependidikan, dan PP No.39/1992 tentang peran masyarakat dalam pendidikan nasional.
Taman kanak kanak
            Sejak pelita I – V, pendidikan di TK mengalami pengembangan yang ditandai dengan jumlah anak didik, guru, dan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya orangtua  semakin menyadari pentingnya pendidikan prasekolah untuk menyiapkan anak dari segi sikap, pengetahuan, dan keterampilan guna memasuki sekolah dasar.
Pendidikan dasar
            Prestasi indonesia dalam pemerataan kesempatan tingkat sekolah dasar melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah termasuk sangat cepat. Namun keberhasilan tersebut mengalami berbagai kendala yaitu masih tingginya angka putus sekolah dan angka tinggal kelas. Selain itu mutu pendidikan sekolah dasar belum begitu tinggi. Begitu pula pada SLTP, untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia indonesia hingga minimal berpendidikan SLTP maka pada 2 mei 1994 program wajib blajar sembilan tahun dicanangkan.
Pendidikan menengah
            Pada jenjang SLTA, selama PJP I, terjadi kenaikan 0,7 juta pada awal pelita I menjadi 4,1 juta siswa. Persoalan yang menonjol pada SLTA umum selama pelita V adalah tentang mutu lulusan yang terutama diukur dari kesiapan untuk memasuki ke jenjang pendidikan tinggi. Dan SMK 370ribu lulusan yang sebagian besar turun ke dunia kerja. Namun dalam kenyataannya, hanya sebagian kecil lulusan SMK yang benar benar siap dalam dunia kerja. Karena selama ini pendidikan di SMK belum relevan dengan dunia kerja. Pada tahun 1995/1996 di SMK mulai dikembangkan model Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Untuk memberi modal kesiapan kepada siswa SMK dalam dunia kerja.
Pendidikan tinggi
            Pada akhir pelita V, jumlah seluruh mahasiswa di indonesia mencapai 2,2 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 650.000 mahasiswa berada di perguruan tinggi negri(PTN). Dan selebihnya berada di perguruan tinggi swasta (PTS) jumlahnya lebih dari 1000 mahasiswa. Baik PTN maupun PTS sama sama menghadapi tantangan mengenai masih rendahnya proporsi mahasiswa yang mempelajari bidang teknologi dan MIPA, sementara sebagian besar mahasiswa berada pada jurusan ilmu-ilmu sosial dan pendidikan. Tantangan selanjutnya adalah tingginya jumlah mahasiswa yang lambat dalam menyelesaikan studi dan masih rendahnya rata-rata tingkat pendidikan dosen.
Pendidikan luar sekolah
            Pembangunan pendidikan luar sekolah diprioritaskan pada pemberantasan buta aksara melalui perluasan jangkauan kejar paket A. Setelah pelita V, diperkirakan 5,3 juta warga masyarakattelah dibebaskan dari buta huruf, dan dari jumlah tersebut sebanyak 75% adalah wanita. Hasilnya adalah semakin menurunnya jumlah masyarakat yang buta huruf.
Tantangan, kendala, dan peluang
            Berdasarkan perkembangan pendidikan selama PJP I yang didirikan pada pelita V, ada sejumlah tantangan yang dihadapi oleh pembangunan pendidikan indonesia pada masa-masa selanjutnya, yaitu:
a.       Belum mampunya pendidikan mengimbangi perubahan struktur ekonomi dari pertanian tradisional ke industri dan jasa
b.      Masih rendahnya relevansi pendidikan
c.       Msih rendah dan belum merstsnys mutu pendidikan
d.      Masih tingginya angka putus sekolah dan tinggal kelas
e.       Masih banyak usia 10 tahun mengalami buta huruf
f.       Masih kurangnya peran serta dunia usaha dalam pendidikan
Disamping tantangan, terdapat kendala yang dihadapi dalam meningkatkan kinerja pendidikan nasional yaitu:
a.       Kemiskinan dan keterbelakangan
b.      Terbatasnya jumlah guru yang bermutu
c.       Terbatasnya sarana dan prasarana
d.      Menejemen pendidikan yang belum terarah
Adapun peluang yang dimiliki pendidikan nasional ialah
a.       Wajib blajar 6 tahun yang memberikan landasan bagi pelaksanaan wajib blajar pendidikan dasar sembilan tahun
b.      Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan
c.       Semakin luasnya sarana komunikasi
d.      Semakin tersebar luasnya lembaga pendidikan negri maupun swasta
e.       Adanya UU No. 2/1989 tentang sistem pendidikan nasional yang memberikan landasan yang kokoh bagi pendidikan nasional


Aliran Pendidikan di Indonesia
A.    MUHAMMADIYAH
Latar belakang
 Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Beliau lahir Thun 1868 di Yogyakarta dan meninggal pada tahun 1923. Dan untuk memperluas pengalamnnya K.H Dahlan menasuki organisasi Budi Utomo,Syarikay Islam, Jamiyah Khoriyah.
Karena pendidikan belanda tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia maka pada tanggal 18 November 1912 K.H Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta.
Muhammadiyah merupakan organisasi yang memiliki asas:
1.      Gerak amalnya; Islam;
2.      Tujuannya : mewujudkan masyarakat islam yang sebenarnya;
3.      Perjuangannya : dakwah islamiyah, amar ma’ruf nahi munkar dalam bidang kemasyarakatan;
4.      Usahanya : semua bidang kegiatan dan kehidupan
 Tujuan Muhammadiyah yaitu meluaskan dan mempertinggi pendidikan agama islam secara modern.
Dasar atau asas pendidikan
Dasar pendidikan Muhammadiyah adalah Kemasyarakatan, Tajdid, pembaharuan Aktivitas, Kreativitas dan Optimisme.

Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan Muhammadiyah adalah  membentuk manusia muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya diri sendiri dan berguna bagi masyarakat.

Penyelenggarakan Pendidikan
Untuk mencapai tujuannya Muhammadaiyah mendirikan sekolah-sekolah rumah-rumah yatim piatu-miskin, rumah sakit dan poliklinik untuk memelihara kesehatan rakyat.
Pada zaman Belanda Muhammadiyah mempunyi bagian-bagian sekolah :
Taman Kanak-kanak(busthanul atfal)             Inheemse Mulo
Sekolah kelas II                                              Normaalschool                             
Sekolah schakel                                               Kwekschool
HIS                                                                 HIK
MULO                                                                        AMS
Sekolah sekolah agamanya


·         Ibtidaiyah
·         Tsanawiyah
·         Diniyah
·         Mu’allimin/muallimat
·         Kulliyatul Mubaligin


Pada tahun 70-an sekolah-sekolahnya berjumlah ±6000buah dan Muhammadiyah memiliki 17 universitas dan 43 akademi. Sampai saat ini Muhammadiyah terus berjuan dan berkembang dalam rangka mencapai cita-citanya.

B.      TAMAN SISWA
Latar belakang.
 Taman Siswa didirika oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta dan meninggal pada tanggal 26 April 1969.
            Latar belakang berdirinya dapat dilihat dari riwayat hidup Ki Hadjar Dewantara, yaitu Beliau suka bergaul dengan rakyat jelata dan berjuang di bidang politik, namun karena kejamnya pemerintah Belanda dan supaya kepentingan bangsa menjadi lebih efektif maka pada tahun 1921 Ki Hadjar Dewantara meninggalkan jalur politik dan berjuang di jalur Pendidikan dan pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta beliau Mendirikan Perguruan Nasional Taman siswa.
            Dasar atau Asas Pendidikan. Ki Hadjar Dewantara menggunakan tujuh asas yang dikenal dengan Asas Taman Siswa 1922. Asas tersebut yaitu :
1.      Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan wajib mengingat tertibnya kehidupan.
2.      Pengajaran berarti mendidik untuk menjadi manusia yang merdeka
3.      Pendidikan hendaknya berasaskan kebudayaan sendiri
4.      Pendidikan harus diberikan kepada masyarakat umum.
5.      Bekerja menurut kekuatan sendiri.
6.      segala belanja mengenai usaha kita harus dipikul
7.      Menyerahkan diri untuk berhamba kepada Sang Anak
Pada tahun 1947 Asas Taman siswa di ubah menjadi Panca Dharma Taman siswa, yaitu sebagai berikut :
1.      Kebebasan atau Kemerdekaan
2.      Kebudayaan
3.      Kodrat alam
4.      Kebangsaan
5.      Kemanusiaan
Tujuan Pendidikan.
Tujuan pendidikan itu ialah kesempurnaan hidup lahir batin sebagai satu-satunya untuk hidup ataupun sebagai anggota masyarakat.
Penyelenggarakan Pendidikan
Berdirinya Perguruan Taman siswa dimulai dengan dibukanya Taman Lare untuk anak dibawah umur 7 tahun
Tahun berikutnya dibuka Taman Anak untuk umur 7-9 tahun;Taman Muda untuk umur 10-13 tahun, dan kelas masyarkat;Taman Dewasa; Taman Madya ; Taman Guru; dan Taman Ilmu. Taman Guru meliputi : Taman Guru B I; Taman Guru B II; Taman Guru B III (terdiri atas bagian A untuk ilmu pasti dan B untuk ilmu budaya), selain itu juga diselenggarakan Taman Guru Indria.


C. INSTITUT NASIONAL SJAFEI (INS) KAYUTANAM
Latar Belakang
latar belakang lahirnya konsep dan praktik pendidikan INS antara lain bahwa Moh. Sjafei sejak kecil telah dididik oleh Ibu dan Bapaknya, yaitu Chalijah dan Marah Soetan dengan menceritakan karya-karya orang besar di dunia. Moh. Sjafei sejak tahun 1922 telah menunjungi Bung Hatta di negeri Belanda. Beliau berkumpul bersama-sama di organisasi mahasiswa “Perhimpunam Indonesia” yang bertekad berjuang memajukan bangsa dan memerdekakan negara Indonesia dari penjajahan Belanda. Sepulang dari Belanda, Moh. Sjafei langsung terjun berjuang mewuudkan dan melaksanakan cita-citanya di Kayu Tanam Sumatera Barat, pada tanggal 31 Oktober 1926 beliau mendirikan sebuah sekolah yang di beri nama Indonesisch Nederland School (INS). Pada tahun 1950 kepanjangan NIS di ubah menjadi Indonesian Nasional School, dan selanjutnya menjadi Institut Nasional Sjafei.

Dasar Pendidikan
Sebagaimana dikemukakan Ag. Soejono (1979) pada awal didirikannya INS mempunyai dasar pendidikan sebagai berikut :
1.      Berfikir secara logis atau Rasional.
INS mementingkan berfikir secara logis sebab menurut kenyataan, dalam masyarakat Indonesia saat itu masih banyak yang berfikir secara mistik.
2.      Keaktifan dan Kegiatan.
INS menggunakan banyak keaktifan anak dalam pengajaran, latihan skill dan pendidikan agar anak bekerja baraturan dan intensif.
3.      Pendidikan Kemasyarakatan
Sesuai dengan sifat indonesia maka di INS diberikan banyak kesempatan bekerja sama.
4.      Memperhatikan bakat anak
Anak yang ternyata pandai dan mempunyai banyak kesanggupan dalam sesuatu mata pelajaran, mendapat pendidikan lebih lanjut dan mendalam untuk menyempurnakan bakat, hingga ia dapat menjadi ahli dalam vak itu.
5.      Menentang Intelektualisme
Tambahan usaha untuk menjauhkan intelektualisme dari INS sebagai berikut :
a.       Pendidikan kebenaran benar-benar diperhatikan
b.      Rasa tanggung jawab dikembangkan melalui berbagai keaktifan, agar anak didik berani berdiri sendiri.
c.       Perasaan keagamaan diberi kesempatan berkembang luas dan bersih jauh dari kepicikan dan kekolotan.
Setelah Indonesia merdeka, Dasar pendidikan INS dikembangkan Moh. Sjafei menjadi Dasar-dasar pendidikan Indonesia (CSIS, 1979) sebagai berikut :
1.      Ketuhanan Yang Maha Esa
2.      Kemanusiaan
3.      Kesosialan
4.      Kerakyatan
5.      Kebangsaan
6.      Gabungan antara pendidikan umum dan kejuruan
7.      Percaya pada diri sendiri di sebelah pada Tuhan
8.      Berakhlak (bersusila) setinggi mungkin , dan lain-lain.
Tujuan pendidikan INS
Tujuan pendididkan INS Kayutanam sebagaimana di kemukakan oleh Umar Tirtarahardja dan La Sulo (1994) adalah sebagai berikut :
1.      Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan
2.      Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
3.      Mendidik para pemuda agar berguna untuk bermasyarakat
4.      Menanamkan kepercayaan
5.      Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan
Penyelenggaraan Pendidikan
            Beberapa usaha yang dilakukan  Ruang Pendidik INS Kayutanam yang dalam bidang kelembagaan antara lain menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan, seperti Ruang Rendah (7 tahun,setara sekolah dasar), Ruang Dewasa (4 tahun sesudah Ruang Rendah, setra sekolah menengah), dan sebagainya.

0 komentar:

Poskan Komentar